twitter
rss

oleh : Radian Nyi Sukmasari - detikHealth

Jakarta, Mempunyai anak yang kreatif pasti menjadi hal yang membanggakan bagi orang tuanya. Oleh karena itu, kreativitas anak perlu diasah sejak dini terutama ketika mereka berusia di bawah enam tahun.

Menurut psikolog Tika Bisono MPsiT.,Psi, ketika orang tua memiliki anak berusia 0-6 tahun, ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam rangka mengasah kreativitas si kecil.

"Tunjukkan minat pada anak dengan pertanyaan positif. Misalnya anak mewarnai baju batman warna hitam semua, tanya kenapa kok hitam semua, emang batmannya kenapa," kata Tika dalam Smart Talkshow 'Memilih Mainan yang Tepat untuk Si Buah Hati' di Fx Sudirman, Jakarta, dan ditulis Rabu (20/11/2013).

"Tak kalah penting jadilah cheerleader yang baik untuk anak. Murah pujian pada dia, beri apresiasi salah satunya tepuk tangan, dengan begitu percaya diri dia akan tumbuh dan dia bisa mengembangkan kreativitasnya," lanjut Tika.

Cara memberikan tepuk tangan untuk mengapresiasi karya anak pun ada tekniknya sendiri, lho, yaitu tepuk tangan sampai terasa sakit sehingga berbunyi kencang, tunjukkan mimik wajah bahagia, dan sambil ucapkan kata 'yeay' atau 'hore'.

Selain itu, Tika mengatakan bahwa orang tua perlu banyak belajar dari TV, buku, dan seminar. Sebab, orang tua perlu belajar dan menyesuaikan diri dari keadaan awal dirinya lajang dan memiliki anak yang kemudian tumbuh dan berkembang.

"Jangan lupa, supaya kreativitas anak berkembang, ketika dia cerita suatu hal, jadilah pendengar dan pengamat yang baik. Cara mudahnya, ketika anak cerita, jangan main hp atau gadget. Harus eye to eye dan duduk berhadapan," jelas wanita yang juga menjadi pengajar di Universitas Paramadina ini.

Menurut Tika, jika orang tua mendengarkan cerita anak dan perhatiannya justru tertuju pada hal lain seperti gadget atau pekerjaan, anak bisa merasa diacuhkan. "Yang ada anak juga tidak akan menghargai Anda," ujar Tika. Selain itu, kesabaran dan tidak merasa putus asa mutlak diperlukan orang tua.

Pasalnya, ketika berusia dua sampai tujuh tahun, anak sedang berada dalam masa genting. Dalam artian di masa itulah anak mengembangkan kreativitas, bakat, dan kemampuannya yang akan mempengaruhi kehidupannya kelak.

Jakarta, Untuk menjamin keselamatan anak-anak Indonesia dalam hal memilih mainan yang aman, pemerintah akan memberlakukan Standar Nasional indonesia (SNI) pada mainan anak mulai 30 April mendatang. Tapi apakah mainan yang ber-SNI pasti harganya akan lebih mahal?

"Harga yang murah atau harga miring memang patutu diragukan, bukan berarti tidak memenuhi SNI. Bukan berarti mainan mahal juga memenuhi SNI, itu tetap kita uji," kata Kepala Pusat Standarisasi, Kementerian Perindustrian, Tony Sinambela.

Jadi, Tony menegaskan bahwa pendapat mainan mahal pasti memenuhi SNI atau mainan murah tidak memenuhi SNI, itu harus dibuktikan setelah melakukan sertifikasi. Hal itu ia sampaikan di sela-sela Media Workshop 'Mainan Aman untuk Keselamatan Anak Indonesia' di Atrium Mall Living Room Alam Sutera, Serpong, dan ditulis pada Kamis (28/11/2013).

Selain itu, Tony berharap jika orang tua tidak hanya memikirkan murahnya barang karena mainan murah belum tentu aman. Maka dari itu, sebaiknya masyarakat bisa memilih mainan yang aman, salah satu caranya yaitu dengan membeli mainan yang memang memenuhi SNI.

Terkait logo SNI, memang diakui Tony ada beberapa oknum yang bisa saja memalsukan logo tersebut. Lantas, bagaimana cara menghindari mainan dengan logo SNI palsu?

"Kalau ada tanda SNI yang mencurigakan, bisa kita telusuri. SNI itu kan dicantumkan kalau produsen sudah mengantongi sertifikat lulus uji. Makanya kami beri tahu pada produsen untuk punya copy sertifikatnya, lewat itu bisa dilihat apakah SNI-nya itu asli atau palsu," terang Tony.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Importir dan Distributor Mainan Indonesia, Eko Wibowo mengatakan, selama menunggu diberlakukannya SNI, masyarakat bisa mengetahui mana produk yang sudah lulus uji dalam standar produk.

"Pada mainan ada tanda CE, ini standar dari eropa, lalu ASTM standar kualitas untuk Amerika, dan Australian Standar. Selain itu, tanda peruntukan untuk anak. Ada peringatan, dan petunjuk awal penggunaan produk yang biasanya ada di kemasan atau label mainan," tutur Eko.

sumber : http://health.detik.com